You are here Teladani Akidah, Ibadah dan Akhlak Rasulullah

Teladani Akidah, Ibadah dan Akhlak Rasulullah


Peringatan Maulid Nabi Muhammad, SAW di Rumah Jabatan Walikota

Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kota Pontianak, Kamis (25/2) malam, menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad, SAW 1431 Hijriyah di aula rumah jabatan Walikota Pontianak.
“Mudah-mudahan dengan kita selalu memperingati hari-hari besar Islam seperti ini, kita semakin bisa memahami ajaran agama kita secara utuh,” ujar Walikota Pontianak, Sutarmidji.
Sutarmidji menambahkan dirinya beberapa tahun yang lalu sudah pernah mengingatkan bahwa adanya upaya-upaya untuk mengalihkan atau membuat aturan-aturan di dalam Islam itu menjadi kabur. Upaya ini membuat umat Islam menjadi pro dan kontra. “Padahal aturan sudah jelas, tidak ada lagi yang bisa ditafsirkan lain, tidak ada istilah nikah siri dalam Islam, yang ada nikah menurut hukum agama dan itu sah,” tuturnya.
Ia juga mengajak umat untuk tidak henti-hentinya memahami ajaran agama Islam dan tidak henti-hentinya mensyiarkannya.
Sementara itu, Ustadz DR. H. Wajidi Sayadi, M.Ag, dalam tausiyahnya mengungkapkan seluruh kehidupan Rasul mulai dari awal hingga wafat semuanya menjadi teladan. “Nah, kalau diberikan garis besar maka ada tiga pokok hal utama yakni masalah akidah, ibadah dan akhlak. Inilah garis pokoknya yang mesti kita teladani dalam kehidupan Rasulullah, SAW,” ungkapnya.
Ia memaparkan cara meneladani kehidupan Rasulullah, SAW diantaranya mencontoh persis apa adanya seperti yang dilakukan Rasulullah berkaitan soal akidah, ibadah dan akhlak.
Ustadz Wajidi menekankan pentingnya sejarah untuk memahami hadits sehingga mengetahui betul bagaimana meneladani Rasulullah, SAW. “Contoh meneladani Nabi Muhammad, SAW ada beberapa cara salah satunya adalah pemahaman seperti ini,” katanya.
Dalam hidup ini, menurut dia, tidak pernah lepas dari tantangan karena semakin banyak tantangan yang dihadapi semakin cepat proses pendewasaan diri. “Ini semua hikmah bahwa kita tidak boleh takut dengan yang namanya tantangan karena dari situlah kita mempercepat proses pendewaan diri kita,” terangnya.
Dikatakannya, ketika nabi berangkat di Madinah, Kota Madinah adalah kota yang penduduknya heterogen atau pluralitas. “Inilah yang perlu kita teladani akhlak Rasulullah dalam membangun silaturrahmi karena beliau sangat menghormati dan menghargai perbedaan. Dengan banyaknya perbedaan-perbedaan yang ada baik itu perbedaan agama, suku, latar belakang pendidikan, strata sosial dan lainnya itu bukan menjadi penghalang tetapi justru sebuah kekuatan yang dibangun Rasulullah sampai berdiri negara Madinah.
Ia mengungkapkan ada sunnah nabi yang seringkali terlupakan yakni piagam Madinah. “Piagam Madinah ini adalah sunnah nabi, piagam Madinah ada 47 pasal yang isinya perjanjian antara kaum muhajirin yaitu penduduk Mekkah yang menetap di Madinah dengan kaum anshar atau penduduk Madinah, berisi perjanjian antara Yahudi dengan Nasrani, berisi perjanjian antara Yahudi, Nasrani dengan umat Islam di bawah kepemimpinan Rasulullah, SAW,” paparnya.
Ditambahkannya, salah satu dari isi piagam Madinah adalah apabila Kota Madinah diserang oleh musuh, maka seluruh warga Madinah wajib mempertahankan Kota Madinah tanpa memandang apapun agamanya.
Menutup tausiyahnya, Ustadz Wajidi menyimpulkan hakikat dari peringatan Maulid Nabi Muhammad, SAW yang bukan hanya tiap tahun namun setiap saat harus meneladani Rasulullah baik dalam persoalan akidah, ibadah, akhlak dan kehidupan. “Intinya meneladani Rasulullah dengan menghargai perbedaan itu sendiri termasuk memberikan penghargaan terhadap orang yang berprestasi,” pungkasnya. (12)